Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

20 Mar 2011

Aqidah Ahlussunnah Terhadap Al Arsy

Mengenal hal-hal yang ghoib dan mengimaninya merupakan salah satu sifat kaum muttaqin sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” [QS. Al Baqarah: 2-3]

Diantara hal-hal yang penting adalah mengenal makhluk-makhluk Allah yang ghaib yang tidak tampak oleh pancaindra kita, namun diberitakan oleh Allah melalui Al Quran dan As Sunnah tentang keberadaannya. Dan karena Allah Ta’ala telah mengabarkannya, maka kita dituntut untuk mengetahui dan mengimaninya agar dapat dikatakan telah beriman kepada perkara ghaib.

Diantara mereka adalah Arsy, tempat bersemayamnya Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan di 19 surat dalam Al Qur’an, di antaranya firman Allah Ta’ala:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam“. [QS. Al A'raf: 54]

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung“. [QS. At Taubah: 129]

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مَامِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran“. [QS. Hud: 3]

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولُنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَآلَسِحْرٌ مُّبِينٌ

Artinya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah):”Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata:”Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata” “. [QS. Yunus 11:7]

الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ يُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Artinya: “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu“. [QS. Ar Ra'd:2]

قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لاَّبْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلاً

Artinya: “Katakanlah:Jikalau ada ilah-ilah di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya ilah-ilah itu mencari jalan kepada (Rabb) Yang mempunyai ‘Arsy“. [QS.Al Isra: 42]

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya: “(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. [QS.Thaha: 5]

لَوْكَانَ فِيهِمَآ ءَ الِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan“. [QS. Al Anbiya: 22]

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم

Artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ ” [QS. Al Mu'minun: 86]

فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia“. [QS. Al Mu'minun:116]

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَسْئَلْ بِهِ خَبِيرًا

Artinya: “Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia“. [QS. Al Furqan:59]

اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar“. [QS. An Naml: 26]

الله الذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَابَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى اْلعَرْشِ مَالَكُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَلِي وَلاشَفِيْعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at.Maka apakah kamu tidak memperhatikan? ” [QS. As Sajdah: 4]

وَتَرَى الْمَلاَئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رِبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Artinya: “Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam’ “. [QS. Az Zumar: 75]

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

Artinya: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala“. [QS. Al-Mu'min: 7]

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلاَقِ

Artinya: “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)“. [QS. Al Mu'min: 15]

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya: “Maha Suci Rabb Yang mempunyai langit dan bumi, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu“. [QS. Az Zukhruf: 82]

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَايَلِجُ فِي اْلأَرْضِ وَمَايَخْرُجُ مِنْهَا وَمَايَنزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَايَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَاكُنتُمْ وَاللهُ بِمَاتَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya.Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“. [QS. Al Hadid: 4]

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Artinya: “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka“. [QS. Al Haaqqoh: 17]

ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

Artinya: “Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy” [QS. At Takwir: 20]

ذِي الْعَرْشِ اْلمَجِيْدِ

Artinya: “Yang mempunyai singgasana, lagi Mahamulia” [QS.Al Buruuj:15]

Semua ayat ini menunjukkan keberadaan dan keagungan Arsy.

Imam Ath Thahawi berkata: “Al Arsy dan Kursi adalah benar adanya”. Akan tetapi walaupun demikian masih banyak kaum muslimin yang mengaku telah beriman kepada yang ghaib yang belum mengetahui permasalahan ini bahkan mengingkari keberadaannya walaupun mereka telah membaca Al Quran dan mengerti maknanya. Oleh karena itu tampaknya perlu dibahas lagi permasalahan ini agar diketahui dan dipahami sesuai dengan hakikat kebenaran yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.

Pengertian Arsy.
Arsy merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yang pada asalnya mengandung makna ketinggian suatu bangunan akan tetapi ia dipakai bangsa Arab untuk menunjukkan beberapa makna, diantaranya:

1. Singgasana raja.
Al Khalil bin Ahmad Al Farahidi berkata: “Al Arsy adalah singgasana untuk raja”[1]. Al Azhaary menyatakan: “Al Arsy dalam bahasa Arab bermakna singgasana raja , yang menunjukkan hal itu adalah singgasana raja saba’ yang telah dinamai Allah dengan Al Arsy, dalam firman Nya:

إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar“. [QS.An Naml: 23] ” [2]

2. Atap rumah.
Al Khalil mengatakan: “Arsyul Bait yaitu atapnya“[3]. Az Zubaidy menyatakan: “Al Arsy dari rumah adalah atapnya sebagaimana dalam hadits:

أَوْ كَالْقَنْدِيْلِ اْلمُعَلَّقِ بِالْعَرْشِ

Artinya: “Atau seperti kendil yang tergantung di Al Arsy ” yaitu atap, dan dalam hadits lain:

كُنْتُ أَسْمَعُ قِرَاءَةَ رَسُوْلِ الله عَلَى عَرْشِيْ

Artinya: “Aku telah mendengar bacaan Rasulullah dari arsy” yaitu atap rumahku, dan dengan makna ini juga ditafsirkan firman Allah :

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا

Artinya: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya” [QS Al Baqarah: 259][4]

3. Tiang dari sesuatu
Az Zubaidy berkata: “Al Arsy bermakna tiang dari sesuatu, ini pendapat Az Zujaaj dan Al Kisaa’i”.[5]

4. Kerajaan.
Al Azhaary berkata: “Al Arsy adalah kerajaan, bila dikatakan: Tsulla Arsyuhu bermakna hilang kerajaan dan keperkasaannya”[6].

5. Bagian dari punggung kaki
Al Khalil berkata: “Al Arsy di kaki adalah bagian antara alhimaar dengan jari-jari kaki di bagian atas (punggung) telapak kaki, dan Alhimaar adalah tulang yang menonjol di bagian punggung telapak kaki, dan jamaknya Iraasyah dan A’rasy”[7].
Dan berkata Ibnul A’rabi : “Punggung telapak kaki dinanakan Arsy dan perut telapak kaki dinamakan Al Akhmash”[8].

Inilah sebagian makna Al Arsy dalam bahasa Arab, akan tetapi makna-makna tersebut akan berubah-ubah sesuai dengan yang disandarinya. Sedangkan yang dimaksud dengan Arsy Allah adalah singgasana, sesuai dengan petunjuk yang telah ditunjukkan oleh nash-nash Al Quran dan As Sunnah.

Adapun syubhat yang dilontarkan orang-orang Jahmiyah bahwa makna Al Arsy dalam firman Allah :

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya: “(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy“. [QS.Thaha: 5]

mengandung kemungkinan beberapa makna, sehingga tidak diketahui makna apa yang ditunjukkan ayat ini dari makna-makna tersebut.

Hal ini telah dijawab oleh Ibnul Qayyim dengan mengatakan: “Ini merupakan usaha untuk membuat kerancuan terhadap orang-orang yang bodoh dan merupakan kedustaan yang nyata, karena Arsy Allah yang Dia bersemayam diatasnya tidak memiliki makna kecuali satu makna saja, walaupun Arsy secara umum memiliki beberapa makna. Akan tetapi huruf lam disini adalah untuk menunjukkan sesuatu yang telah diketahui sebelumnya (Al ‘Ahd), maka hal itu membuat makna Arsy menjadi tertentu saja yaitu Arsy Ar Rabb yang bermakna singgasana kerajaannya yang telah disepakati dan diakui para rasul dan para umat kecuali orang yang menentang para Rasul”[9].

Apakah Arsy itu?
Pengertian Al Arsy menurut Ahlu Sunnah wal Jamaah (manhaj salaf) adalah makhluk Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat.

Al Baihaqy berkata: “Pendapat para ahli tafsir tentang Al Arsy adalah singgasana, dan dia adalah jasad yang berbentuk yang telah diciptakan Allah dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikilnya dan beribadah dengan mengagungkan dan berthawaf padanya, sebagimana Dia menciptakan satu rumah dibumi dan memerintahkan bani adam untuk berthowaf padanya dan menghadapkan kepadanya ketika shalat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukkannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar”[10].

Ibnu Katsir berkata: “Dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah yang menutupi alam ini dan dia adalah atapnya para makhluk”[11].

Syamsuddin Adz Dzahabi -setelah menyebutkan sebahagian ahli surga- menyatakan: “Apa yang disangka tentang Al Arsy yang agung yang telah dijadikan Allah untuk diriNya dalam ketinggian, luas, tiang-tiang, bentuk, pemikulnya dan melaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy serta kebagusan dan keindahannya. Sungguh telah diriwayatkan, dia dibuat dari yaquut (jenis permata yang sangat indah, -pen) yang berwarna merah”[12].

Berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Dalil Al Arsy adalah makhluk Allah yang telah Allah ciptakan adalah :

a. Dari Alquran
Firman Allah :

ذَالِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

Artinya: “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” [QS.Al An'am:102]

Maka setiap sesuatu di alam ini adalah makhluk yang Allah ciptakan dan adakan, dan Al Arsy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah.
Dan firman Allah :

اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar“. [QS.An Naml: 26]

Dan firman Allah :

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung“. (QS.At Taubah 9:129)
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Firman Allah :

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung“. (QS.At Taubah: 129)
memberikan isyarat penunjukkan bahwa Al Arsy dimiliki, dan setiap yang dimiliki adalah makhluk… dan dalam penetapan tiang-tiang Al Arsy ada penunjukan yang tegas bahwa Arsy adalah sesuatu yang tersusun dari beberapa bagian dan anggota tubuh, dan sesuatu yang tersusun demikian adalah makhluk yang diciptakan”[13].

b. Dari As Sunnah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dalam hadits Abu Raziin Al Uqailiy, beliau berkata:

يَارَسُوْلَ الله أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قاَلَ كَانَ فِيْ عَمَاء مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحَْهُ هَوَاءُ ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى اْلمَاءِ

Artinya: “Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhlukNya ? Beliau menjawab: Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air“.[14]
Ini adalah dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama salaf dalam menetapkan Arsy sebagai makhluk dari makhluk Allah.

2. Dalil Al Arsy adalah makhluk Allah yang tertinggi dan berbentuk kubah

Hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya: “Jika kalian meminta, mintalah Alfirdaus, karena dia adalah tengah-tengah syurga dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai surga“.[15]

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamaniin dalam kitabnya Ushulussunnah: “Merupakan keyakinan Ahlussunnah yaitu Allah telah menciptakan Al Arsy dan mengkhususkannya dengan berada diatas dan ketinggian diatas semua makhluknya”[16]. Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah“[17]

dan tentang ketinggiannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya: “Jika kalian meminta, mintalah Alfirdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai surga“.[18]

Dan jelaslah dengan hadits-hadits ini bahwa AlArsy adalah makhluk yang paling tinggi dan dia seperti kubah”.[19]

3. Dalil Al-Arsy adalah singgasana.

Ibnu Qutaibah berkata: “Mereka mencari-cari makna lain untuk Arsy selain singgasana, sedangkan Ulama bahasa (Arab) tidak mengenal makna untuk Arsy kecuali singgasana dan apa yang digelar dari atap-atap dan yang serupanya”.[20]
Ibnu Katsir berkata: “Al Arsy dalam bahasa Arab artinya dari singgasana untuk seorang raja, sebagaimana firman Allah :

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Adalah dia (ratu Bilqis) mempunyai singgasana yang besar” [QS. An Naml 23] dan bukan galaksi. Demikian juga bangsa Arab tidak mengenal hal itu sedangkan Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, maka dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang”.[21]

4. Dalil bahwa Arsy adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

إِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَأَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ يَفِيْقُ فَإِذَا أَنَا بِمُوْسَى آَخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ اْلعَرْشِ فَلا أَدْرِيْ أَفَاقَ قَبْلِيْ أَمْ جُوْزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّوْرِ

Artinya: “Sesungguhnya manusia pingsan pada hari kiamat, lalu aku adalah orang yang pertama sadar, seketika itu aku mendapatkan Musa sedang memegang sebuah tiang dari tiang-tiang AlArsy, maka aku tidak tahu apakah dia telah sadar sebelumku ataukah dia dibebaskan (dari pingsan tersebut) karena telah pingsan di bukit Thur“.[22]
Berkata Ibnu Abil Izz: “Telah tetap dalam syariat bahwa Al Arsy memiliki tiang-tiang”.[23]

5. Dalil bahwa Arsy dipikul dan di-thawaf-i oleh para malaikat

a. Dari Alquran,

Firman Allah

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

Artinya: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala” [QS. Al Mu'min:7]
dan firman Allah :

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Artinya: “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka“. [QS. Al Haaqoh: 17]

b. Dari Assunnah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dalam hadits Jabir bin Abdillah (artinya): “Aku diizinkan untuk membicarakan seorang malaikat dari para malaikat Allah dari pemikul Al Arsy, sungguh jarak antara daun telinganya sampai bahunya sepanjang perjalanan 700 tahun“.[24]

Dari sini jelaslah sudah aqidah Ahlussunnah wal Jamaah tentang Al Arsy dan ini merupakan pendapat salafus shalih.

Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel UstadzKholid.Com




[1] Kitabul ‘Ain, 1/291

[2] Tahdzibul Lughoh, 1/413

[3] Kitabul ‘Ain 1/ 291

[4] Taajul Arusy Min Jawaahiril Qomus, 4/321

[5] Taajul Arusy, 4/321

[6] Tahdzibul Lughoh, 1/414

[7] Kitabul Ain, 1/293

[8] Lisanul Arab, 4/2882

[9] Mukhtashor Shawaiqul Mursalah, 1/17-18.

[10] Al Asma wa Shifat hal. 497

[11] Al Bidayah Wan Nihayah, 1/12

[12] Kitabul Uluw hal. 57

[13] Fathul Baary, 13/405

[14] HR. At Tirmidzi dalam Jami’ At Tirmidzi (sunan) kitab Tafsir, bab surat Hud 5/288 hadits No. 3109, Ibnu Majah dalam Sunan-nya Muqadimah Bab Fimaa Ankarat Al Jahmiyah 1/63, Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/11-12), Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/271, dan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dalam kitabnya Al Arsy hal.313-314. Semuanya dari jalan periwayatan Hamad bin Salamah. Hadits ini dihasankan oleh At Tirmidzi dan Adz Dzahabi dan dilemahkan oleh Al Albany dalam Mukhtashor Al Uluw hal. 186. dan Al Albani berkata: “Pengesahan hadits ini tidak benar, karena semuanya bertemu pada Waki’ bin Hads, dan ada yang mengatakan ‘Ads, dan dia seorang majhul (tidak dikenal) yang tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Ya’la bin Atha’ oleh karena itu dikatakan oleh penulis (yaitu Adz Dzahabi): ‘Tidak dikenal’. Dan berkata di dalam kitab Dzilaalil Jannah 1/271: ‘Sanadnya lemah’, Waki’ bin ‘Ads dan dikatakan Hads seorang yang majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Ya’la bin Atha’ dan tidak juga beliau di tsiqahkan kecuali oleh Ibnu hibban”.

[15] HR. Bukhari dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat Fathul Bari 13/404.

[16] Ushulus Sunnah Hal. 282.

[17] HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252

[18] HR. Bukhari dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat Fathul Bari 13/404.

[19] Al Fatawa Al Kubro Li Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, 5/151.

[20] Al Ikhtilaaf Fil Lafdzi, hal. 240

[21] Al Bidayah Wan Nihayah, 1/11-12

[22] HR Bukhari No. 2411, 3408, 6517 dan 6518 dan Muslim No. 2373

[23] Syarah Aqidah Ath Thohawiyah hal. 366

[24] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya 5/96 No.4727, Al Khothib dalam Tarikh-nya 10/195 dan Al Baihaqy dalam Al Asma wa Shifat hal. 397 dari hadits Ibnul Munkadir dari Jabir. Berkata Adz Dzahabiy dalam kitabnya Al Uluw: “Sanadnya shohih”. Dan berkata Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya 4/414: “Sanadnya baik dan perawi-perawinya tsiqat semua”.

sumber: http://ustadzkholid.com

11 Mar 2011

Siapa Bilang Dosamu Tidak Terampuni

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta’ala berfirman, 'Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.'” (HR. Tirmidzi, dan dia menghasankannya).

Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran berharga, di antaranya:

1. Tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah Ta’ala. Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata mengomentari hal ini, “Ini adalah syarat yang berat untuk bisa mendapatkan janji itu yaitu curahan ampunan. Syaratnya adalah harus bersih dari kesyirikan, banyak maupun sedikit. Sementara tidak ada yang bisa selamat/ bersih darinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah Ta’ala. Itulah hati yang selamat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala (yang artinya), 'Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.'” (Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 53-54)

2. Keutamaan ini hanya akan bisa diperoleh bagi orang yang bersih tauhidnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “…Seandainya ada seorang yang bertauhid dan sama sekali tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa hampir seisi bumi, maka Allah pun akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Namun, hal itu tidak akan bisa diperoleh bagi orang yang cacat tauhidnya. Karena, sesungguhnya tauhid yang murni itu yang tidak tercemari oleh kesyirikan apapun, maka ia tidak akan menyisakan lagi dosa. Karena, ketauhidan semacam itu telah memadukan antara kecintaan kepada Allah, pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya, serta rasa takut dan harap kepada-Nya semata, yang hal itu menyebabkan tercucinya dosa-dosa, meskipun dosanya hampir memenuhi isi bumi. Najis yang datang sekadar menodai, sedangkan faktor yang menolaknya sangat kuat.” (Dinukil dari Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 54-55).

3. Hadits ini mengandung keterangan tentang makna la ilaha illallah yang bisa lebih berat timbangannya daripada semua makhluk dan semua dosa. Maknanya adalah meninggalkan syirik dalam jumlah banyak maupun sedikit. Hal itu pasti membuahkan ketauhidan yang sempurna. Tidak mungkin bisa bersih dari syirik kecuali bagi orang yang benar-benar merealisasikan tauhidnya, serta mewujudkan konsekuensi dari kalimat ikhlas (syahadat) yang berupa ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, rasa cinta, menerima, tunduk patuh dan lain sebagainya menjadi konsekuensi kalimat yang agung itu (lihat Qurrat al-’Uyun al-Muwahhidin, hal. 22). Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengucapkannya -la ilaha illallah- dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, maka dia tidak akan terus-menerus tenggelam di dalam kemaksiatan-kemaksiatan. Karena keimanan dan keikhlasannya yang sempurna menghalangi dirinya dari terus-menerus tenggelam dalam maksiat. Oleh sebab itu, dia akan bisa masuk surga sejak awal bersama dengan rombongan orang-orang yang langsung masuk surga.” (Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 21).

4. Hadits ini menunjukkan bahwa tauhid tidak hanya cukup di lisan. Namun, tauhid juga menuntut seorang hamba untuk menunaikan kewajiban, serta meninggalkan kemaksiatan. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempersaksikannya -kalimat tauhid- namun dia mencemarinya dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan, atau dia sekadar mengucapkannya dengan lisan sementara hati atau amalannya berbuat syirik seperti halnya orang-orang munafik, maka orang semacam ini ucapan syahadatnya tidak bermanfaat. Akan tetapi yang semestinya dia lakukan adalah mengucapkannya kemudian meyakininya dengan kuat, melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan serta mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 20). Beliau rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang dilarang, maka itu berarti dia telah berani menawarkan dirinya untuk menerima hukuman Allah Ta’ala meskipun dia mengucapkan kalimat ini dan meyakininya. Apabila dia melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka berubahlah dia menjadi orang yang murtad dan kafir. Syahadat ini tidak lagi bermanfaat untuknya. Oleh sebab itu, kalimat ini harus diwujudkan dalam kenyataan dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya, kalau tidak demikian, maka dia berada dalam bahaya besar seandainya dia tidak kunjung bertaubat juga.” (Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 26). Beliau juga mengatakan, “Hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya para pelaku maksiat itu sangat berresiko dijatuhi ancaman siksa dan mereka akan masuk ke neraka, lalu mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa’at para nabi dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan mereka telah melemahkan tauhid mereka dan mencemarinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.” (Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 21).

5. Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala amalan tauhid (lihat Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 55).

6. Hadits ini menunjukkan betapa luasnya kedermawanan dan kasih sayang Allah Ta’ala (lihat Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 55).

7. Hadits ini mengandung bantahan bagi orang-orang Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar (lihat Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 55).

8. Hadits ini juga mengandung bantahan bagi kaum Mu’tazilah yang memiliki keyakinan bahwa pelaku dosa besar itu berada di antara dua status di alam dunia ini, antara iman dan kafir. Manzilah baina manzilatain dalam istilah mereka, dan pelaku dosa besar menurut mereka kelak akan kekal di neraka (lihat Fath al-Majid bi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 55).

9. Allah Ta’ala berkata-kata, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan diri-Nya (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 43).

10. Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa, dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut: [1] Orang yang mati dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya, maka dia pasti masuk neraka. [2] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya, maka dia pasti masuk surga. [3] Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukannya justru lebih berat dalam timbangan, maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal di sana (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 44).

11. Hadits ini mengandung motivasi (targhib) dan peringatan (tarhib). Ini merupakan motivasi agar orang mau berjuang keras membersihkan tauhidnya dari kotoran syirik dan kemaksiatan, karena Allah menjanjikan ampunan yang demikian besar bagi orang yang murni tauhidnya. Dan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang selama ini tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan agar waspada dan takut kalau ternyata di akhir hidupnya mereka tidak tergolong orang yang bersih tauhidnya. Karena kotornya tauhid akan menyebabkan dosa-dosa mereka tidak pasti diampuni oleh Allah, padahal kita semua mengetahui bahwa ‘Inna bathsya Rabbika la syadiid’ Sesungguhnya siksaan Rabb-mu amatlah keras… Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Seandainya Allah mau menyiksa manusia -di dunia- sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat niscaya tidak akan Allah sisakan di atas muka bumi ini seekor binatang melatapun. Akan tetapi Allah menunda hukuman itu untuk mereka hingga waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang saatnya sesungguhnya Allah Maha melihat semua hamba-Nya.” (QS. Fathir: 45). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya adalah apabila Allah menyiksa mereka sebagai hukuman atas semua dosa yang mereka perbuat, maka Allah tentu akan menghancurkan semua penduduk bumi dan segala binatang dan rezeki yang mereka miliki.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/362] cet. Maktabah at-Taufiqiyah).

12. Hadits di atas juga menunjukkan wajibnya mempelajari syirik -dengan segala macam bentuk dan jenisnya- untuk dijauhi, wajibnya menyadari bahayanya yang sangat besar serta memperingatkan umat dari segala sarana yang menjerumuskan ke dalamnya.

13. Hadits di atas juga menunjukkan pentingnya tazkiyatun nafs/ penyucian jiwa. Karena sesungguhnya orang yang bisa meraih keutamaan yang berupa ampunan yang melimpah ruah itu hanyalah orang yang bersih tauhidnya. Sementara hal itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan mengenali maksiat dan menjauhinya serta bertaubat darinya.

14. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa dosa yang paling harus ditakuti dan dijauhi oleh manusia adalah dosa kesyirikan dan kekafiran. Karena dosa itulah yang menghalangi mereka dari memperoleh ampunan Allah Ta’ala. Oleh sebab itulah dalam memperbaiki kondisi masyarakat yang telah mengalami kerusakan dalam berbagai sisi kehidupan mereka maka seorang dai harus memprioritaskan pembenahan akidah dan pemurnian tauhid terlebih dulu, karena ini adalah asas penyucian jiwa dan kunci keselamatan di dunia dan di akhirat.

15. Hadits di atas menunjukkan batilnya semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Sehingga tidak ada sosok yang layak untuk dijadikan tempat bergantungnya hati, tumpuan rasa cinta, takut, dan harap serta tawakal kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

16. Hadits di atas juga menunjukkan bahayanya riya’, karena riya’ adalah syirik yang sangat samar, sementara syirik menyebabkan pelakunya terhalang dari mendapatkan ampunan dosa.

17. Hadits di atas menunjukkan bahwa pengampunan dosa adalah hak Allah Ta’ala, bukan hak Nabi ataupun ulama, apalagi pendeta atau pastur gereja!

18. Hadits di atas menunjukkan sebesar apapun dosa selama masih berada di bawah tingkatan syirik, maka masih mungkin untuk diampuni oleh Allah Ta’ala dan masih ada kesempatan masuk surga walaupun pelakunya –jika tidak bertaubat- harus mampir sekian lama di dalam neraka, semoga Allah menyelamatkan kita darinya. Dosa syirik pun, apabila pelakunya bertaubat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala.

Inilah sebagian pelajaran yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat dan menambah rasa takut kita kepada-Nya. Segala puji hanya milik Allah, salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Rasulullah.

Yogyakarta, 9 Dzulqa’dah 1430 H
Yang sangat membutuhkan ampunan Rabb-nya

Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.PengusahaMuslim.com

Share this:
done